LAPORAN PRAKTIKUMMIKROBIOLOGI

PENGAMATAN JAMUR DAN
PENGAMATAN PROTOZOA PADA SAMPEL AIR
PENGAMATAN PROTOZOA PADA SAMPEL AIR
Disusunoleh:
KELOMPOK 3
Muhammad Sodik 1351810262
Yuni Nawwar Rizky wulandari 1351810278
Zahro Suryana Arief 1351810279
Arlingga Rahmania Lanuari 1351810280
Shintya Bella Aprilia 1351810281
Anis Thohiroh 1351810291
Dyah Ayu Wardani 1351810292
Mirza Elfaryani 1351810293
LABORATORIUM
MIKROBIOLGI
AKADEMI FARMASI
SURABAYA
2019
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Tempe
adalah makan yang sering sekali di konsumsi oleh masyarakat. Tempe terbuat dari
kedelai yang difermentasi oleh jamur. Jamur pada tempe bertugas memecah
komponen senyawa pada kacang kedelai agar menjadi senyawa yang lebih sederhana
sehingga mudah diolah oleh tubuh. Hal tersebutlah yang membuat tempe menjadi
makanan bergizi. Jamur atau fungi
merupakan kelompok mikroorganisme eukariotik heterotrof yang tidak
berklorofil dan berdinding sel dari kitin atau selulosa. Sebagian besar tubuh
fungi terdiri dari hifa atau benang benang yang membentuk jaring jaring halus
yang disebut miselium. Sebagai mikroorganisme heterotrof, jamur dapat berperan
sebagai dekomposer, saprofit atau bahkan parasit. Berdasarkan bentuknya, jamur
dibedakan menjadi dua yaitu kapang (mold) yang bersifat multiseluler dan khamir
(yeast) yang merupakan fungi bersel tunggal atau uniseluler. Jamur memiliki
bentuk yang bermacam macam dan dapat hidup dimana saja terutama pada bahan yang
berasal dari alam misalkan pada buah, makanan basi, sayuran dan bahan lainnya.
Pengamatan sangat penting dilakukan untuk identifikasi jamur tersebut.
Pengamatan dapat dilakukan dengan cara makroskopis dan mikroskopis.
Air merupakan kebutuhan
yang paling penting dalam hidup manusia. Sekitar tiga perempat tubuh manusia
terdiri dari air. Hampir seluruh kegiatan manusia juga membutuhkan air misalkan
seperti mencuci, masak, mandi bahkan dalam tubuh manusia pun membutuhkan air
seperti pada proses pencernaan, keseimbangan cairan tubuh, proses metabolisme
dan proses lainnya. Air yang dikonsumsi oleh manusia dan air yang digunakan
untuk kegiatan sehari hari manusia tidaklah sama. Air yang dikonsumsi oleh
manusia harus memenuhi kriteria air bersih dan aman yang telah ditentukan oleh Departemen
Kesehatan Dunia (WHO) atau Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Yaitu tidak
mengandung bahan kimia berbahaya dan beracun, tidak berbau dan tidak berwarna,
serta tidak terkontaminasi bibit penyakit. Sedangkan air yang digunakan untuk
kegiatan sehari hari seperti mencuci dan mandi mungkin saja terdapat berbagai
jenis mikroba di dalamnya baik yang
patogen maupun nonpatogen. Seiring dengan berkembangnya industri dan
semakin banyaknya pemukiman masyarakat, ketersediaan air bersih yang dapat
diminum semakin berkurang. Oleh karena itu pada praktikum kali ini kami
melakukan pengamatan terhadap bebrapa jenis sampel air untuk melihat apakah air
tersebut mengandung mikroba atau tidak.
B. Rumusan
Masalah
1. Protista apa saja yang dapat di temukan pada sampel air sungai,air selokan, air sumur
dan air PDAM?
2. Bagaimana bentuk dan apa saja bagian tubuh protista pada sampel air?
3. Bagaimana cara membuat biakan jamur pada SDA (Sabouraud Dextrose Agar)?
4. Bagaimana bentuk morfologi jamur pada SDA dan biakan jamur Apergillus
Niger,Rhizopus Oryza dan Penicillium sp yang di amati dengan metode mikroskopik
5. Bagaimana bentuk morfologi jamur pada tape dingkong dan biakan jamur Saccharomyces
yang diamati dengan metode mikroskpik?
dan air PDAM?
2. Bagaimana bentuk dan apa saja bagian tubuh protista pada sampel air?
3. Bagaimana cara membuat biakan jamur pada SDA (Sabouraud Dextrose Agar)?
4. Bagaimana bentuk morfologi jamur pada SDA dan biakan jamur Apergillus
Niger,Rhizopus Oryza dan Penicillium sp yang di amati dengan metode mikroskopik
5. Bagaimana bentuk morfologi jamur pada tape dingkong dan biakan jamur Saccharomyces
yang diamati dengan metode mikroskpik?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui Protista apa saja yang dapat di temukan pada sampel air sungai,air
selokan, air sumur dan air PDAM?
selokan, air sumur dan air PDAM?
2. Untuk mengetahui bagaimana bentuk dan apa saja bagian tubuh protista pada sampel air
3. Untuk mengetahui bagaimana cara membuat biakan jamur pada SDA
(Sabouraud Dextrose Agar)
(Sabouraud Dextrose Agar)
4. Untuk mengetahui bagaimana bentuk morfologi jamur pada SDA dan biakan jamur
Apergillus Niger,Rhizopus Oryza dan Penicillium spmetode mikroskopik
Apergillus Niger,Rhizopus Oryza dan Penicillium spmetode mikroskopik
5. Untuk mengetahui bagaimana morfologi jamur pada tape dingkong dan biakan jamur
Saccharomyces yang diamati dengan metode mikroskpik
Saccharomyces yang diamati dengan metode mikroskpik
D. Manfaat
Manfaat
yang dapat diambil dalam praktikum ini adalah mahasiswa mampu melakukan
identifikasi kualitas air pada suatu tempat tergolong buruk atau bagus dan
mampu menerapkan metode MPN (most probable number) untuk mengetahui baik atau
buruk kualitas ait di suatu daerah, selain itu dapat ditemui manfaat lain yaitu
jika di suatu daerah terdapat sumber mata air yang akan dikonsumsi namun
masyarakat sekitar tidak mengetahui kualitas air tersebut baik bagi kesehatan
apa tidak, oleh karena itu dapat dimanfaatkan metode MPN (most probable number)
untuk mengetahui apakah air tersebut layak dikonsumsi atau tidak.
BAB
II
Tinjauan
Pustaka
Secara umum, jamur dapat
didefinisikan sebagai organisme eukariotik yang mempunyai inti dan organel.
Jamur tersusun dari hifa yang merupakan benang- benang sel tunggal panjang,
sedangkan kumpulan hifa disebut dengan miselium. Miselium merupakan massa
benang yang cukup besar dibentuk dari hifa yang saling membelit pada jamur saat
tumbuh. Jamur dikenal dengan melihat warna miseliumnya (Volk and Wheeler,
1993).
Pada koloni jamur ada hifa yang
menjalar dan ada hifa yang menegak. Biasanya hifa yang menegak ini menghasilkan
alat-alat pembiak yang disebut spora, sedangkan hifa yang menjalar berfumgsi
untuk menyerap nutrient dari substrat dan menyangga alat-alat reproduksi. Jenis
jamur yang berbeda memiliki diameter hifa yang berbeda pula dan ukuran diameter
itu dapat dipengaruhi oleh keadaan lingkungan (Carlie and Watkison, 1994).
Ada beberapa jamur yang banyak
digunakan dalam kehidupan sehari-hari, yaitu Rhizopus sp. Merupakan kapang yang
mudah tumbuh dalam tanah, buah dan sayuran serta produk olahan fermentasi salah
satunya yang banyak dikenal dalam memfermentasi kedelai menjadi tempe. Koloni
Rhizopus sp berwarna keputihan berangsur-angsur menjadi abu-abu. Saccharomyces
cerevisiae merupakan khamir sejati yang secara morfologi hanya membentuk
blastospora berbentuk bulat lonjong, silindris, oval atau bulat telur yang
dipengaruhi oleh strainnya. Dapat berkembang biak dengan membelah diri melalui
budding cell. Reproduksinya dapat dipengaruhi oleh keadaan lingkungan serta
jumlah nutrisi yang tersedia bagi pertumbuhan sel. Penampilan koloni
Saccharomyces cerevisiae berbentuk bulat, warna kuning muda, permukaan
berkilau, licin, tekstur lunak dan memiliki sel bulat dengan askospora 1 sampai
8 buah (Ahmad, 2005). Aspergillus niger merupakan salah satu dari tiga spesies
aspergillus. Menurut Sacher et al. (2002), jamur jenis Aspergillus mudah tumbuh
pada medium bakteri dan jamur, membentuk koloni yang dapat dilihat dalam 3 hari
inkubasi. Penicilium sp termasuk dalam divisi Ascomycota. Reproduksi seksual
membentuk askospora didalam askus. Reproduksi aseksualnya dihasilkan spora
konidium yang terbentuk pada ujung hifa khusus yang disebut konidiofor.
Kapang ini bersel banyak dan mempunyai
ujung konidiofor yang tidak melebar, melainkan bercabang-cabang dengan deretan
konidium pada cabang-cabang tadi (Pratwii, 2006).
Protozoa merupakan mikroorganisme
bersel tunggal yang banyak terdapat di dalam air laut, air tawar, tanah lembab,
dan dalam tubuh oerganisme lain. Meskipun hanya terdiri dari satu sel dengan
satu atau beberapa inti, ternyata protozoa memiliki susunan anatomi, fisiologi,
dan tingkah laku yang sangat kompleks. Sifat hidup protozoa kebanyakan adalh
bebas di alam namun sebagian kecil bersifat parasit. Protozoa yang hidup bebas
disebut juga sebagai protozoa nonpatogenik sedangkan yang parasit disebut
protozoa patogenik. Protozoa nonpatogenik tidak akan merugikan organism lain
justru beberapa diantaranya bermanfaat. Habitat protozoa menyebar luas dan
banyak ditemukan di perairan air tawar, sungai kecil, dan kolam.
Protozoa diklasifikasikan dengan
berdasarkan alat geraknya yang terdapat empat filum protozoa. Macam macam jenis
klasifikasi protozoa adalah Ciliata yakni protozoa yang bergerak dengan
memfungsikan silia (rambut getar). Rhizopoda yakni jenis protozoa yang bergerak
dengan memfungsikan pseudopodia (kaki semu). Sporozoa salah satu protozoa yang
unik karena tidak memiliki alat gerak. Flagellata yakni jenis protozoa yang
bergerak dengan memfungsikan flagella (bulu cambuk).
BAB
III
METODELOGI
PENELITIAN
1. Preparat
jamur
Alat dan bahan
·
Cawan petri yang berisi
kawat dan objek glass (steril)
·
Media SDA (steril)
·
Kawat ose
·
Aquadest
·
Rhizopus sp.
·
Aspergillus niger
·
Penicillium sp.
Cara kerja :
menyiapkan
cawan petri yang telah terisi kawat dan obyek glass yang telah steril, siapkan
media SDA yang telah steril potong menjadi beberapa bagian. Masukkan SDA yang
telah dipotong kedalam cawan petri yang berisi kawat dan obyek glass, kemudian
masukkan biakkan jamur menggunakan kawat ose kedalam media SDA. Inkubasi selama
lebih kurang 5-10 hari. Pembuatan preparat jamur dilakukan didalam LAF dan menggunakan
prinsip kerja aseptis.
2. Pengamatan
mikroskopis pada jamur
Alat dan bahan
·
Media kultur jamur
·
Mikroskop
·
Api Bunsen
·
Obyek dan cover glass
·
NaCl
·
Kawat ose
·
Botol semprot alcohol
·
Label preparat
Cara kerja :
Diberi
label pada obyek glass, sterilkan kawat ose. Ambil kultur jamur dengan kawat
ose dan letakkan ditengah obyek glass yang sebelumnya telah diberi NaCl
kemudian diamati dibawah mikroskop. Menggunakan prinsip kerja aseptis.
3. Pengamatan
mikroskopis pada air
Alat dan bahan
·
Mikroskop
·
Air sungai
·
Air selokan/got
·
Air sumur
·
Air PDAM
·
Pipet tetes
·
Obyek dan cover glass
·
NaCl
·
Botol semprot alkohol
Cara kerja :
Menyiapkan
obyek dan cover glass yang telah disemprot dengan alkohol dan ditetesi NaCl.
kemudian diberi sampel (air sungai, air selokan, air sumur, air PDAM ) lalu
diamati dibawah mikroskop.
BAB
IV
HASIL
DAN PEMBAHASAN
1.
Hasil
A. Hasil
Preparat Jamur
No.
|
Nama
|
Hasil
|
1.
|
Rhizopus sp.
|
|
2.
|
Aspergillus niger
|
|
3.
|
Penicillium sp.
|
B. Pengamatan
Mikroskopis Pada Jamur
No.
|
Nama
|
Hasil
Pengamatan
|
||||||||||
1.
|
|
|
||||||||||
2.
|
Keterangan :
1 = Sel bentuk ellips
2 = Sel bentuk silinder
3 = Budding
|
|
||||||||||
3.
|
|
Aspergillus niger
|
||||||||||
4.
|
|
Tidak
Mengamati
|
C. Pengamatan
Mikroskopis Pada Air-Air
No.
|
Nama
|
Hasil
Pengamatan
|
||
1.
|
Air Sungai
|
|
||
2.
|
Air Selokan / Got
|
Perbesaran 40x10
|
||
3.
|
Air Sumur
|
Perbesaran 10x 10
|
||
4.
|
AirPDAM
|
Perbesaran 40x10
|
2.
PEMBAHASAN
2.1 Hasil Preparat Jamur
Pada
praktikum kami membuat 3 preparat dengan biakan jamur Rhizopus sp, Aspergillus
niger, dan Penicillium sp. Pada biakan jamur dimasukan ke dalam media SDA yang
steril dengan cawan petri berisi kawat dan objek glass yang telah steril.
Kemudian diinkubasi selama kurang lebih 5-10 hari.
Berdasarkan hasil praktikum setelah inkubasi biakan jamur
2 diantaranya tumbuh yaitu Rhizopus sp. berwarna abu-abudan Aspergillus niger berwarna
hitam, namun pada biakan jamur Penicillum sp. tidak tumbuh dikarenakan mungkin
biakan jamur yang digunakan telah rusak sehingga tidak dapat tumbuh.
2.2 Pengamatan Mikroskopik
Pada Jamur
Fungi atau jamur merupakan nama regnum atau kingdom sekelompok makhluk
hidup eukariotik heterotrof yang mencerna makanannya di luar tubuh lalu
menyerap molekul nutrisi ke dalam sel-selnya. Fungi merupakan organisme eukariot. Anggotanya ada yang
uniseluler dan ada pula yang multiseluler.
Berdasarkan hasil
praktikum jenis jamur yang digunakan adalah Rhizopus sp., Saccharomyces
cerevisiae, Aspergillus niger dan Penicillium sp.
Pada hasil preparat
jamur Rhizopus sp. Menghasilkan koloni yang berwana abu-abu pada media SDA.
Pada pengamatan mikroskopis Rhizopus sp. Memiliki bagian terdri dari spora, sporangium, sporangiofor, hifa/stolon,
dan rhizoid. Pengamatan dilakukan dengan perbesaran 40X.
Pada hasil pengamatan mikroskopis Saccharomyces
cerevisiae berbentuk oval dan terdapat
adanya budding yaitu berkembang biak dengan membelah diri. Pengamatan dilakukan
dengan perbesaran 40X.
Hasil
preparat pada jamur Aspergillus niger menghasilkan koloni berwarna hitam pada
media SDA. Pengamatan secara mikroskopis dengan perbesaran 40X menunjukan Aspergillus
niger memiliki bagian terdiri dari konidia, phialid,vesikula,sporangiofor dan
septa.
Penicilium
sp. Termasuk dalam divisi Ascomycota.
Reproduksi seksual membentuk askospora didalam askus. Reproduksi aseksualnya
dihasilkan spora konidium yang terbentuk pada ujung hifa khusus yang disebut
konidiofor. Kapang ini bersel banyak dan
mempunyai ujung konidiofor yang tidak melebar, melainkan bercabang-cabang
dengan deretan konidium pada cabang-cabang tadi (Pratwii, 2006). Pertumbuhan
kapang Penicillium sp. dipengaruhi oleh faktor-faktor yang penting, yaitu :
substrat, kelembaban, suhu, dan pH. Penicillium sp. dapat hidup pada kelembaban
yang rendah yaitu 80%. Suhu yang optimum untuk pertumbuhannya adalah 25˚C
(Gandjar e.t al., 2006). Menurut penelitian Indahwati (2009), pH optimum yang
dihasilan oleh 25˚C berkisar 3,15-4,34.
Pada
hasil preparat dari Penicillium sp pada media SDA kami tidak melakukan
pengamatan dikarenakan media kami tidak tumbuh.
2.3 Pengamatan
Pada Air
Protozoa
merupakan mikroorganisme bersel tunggal kelompok Protista yaitu organisme
eukariota yang bukan hewan maupun tumbuhan. Protozoa dibagi ke dalam empat Classis
berdasarkan susunan alat geraknya. Habitat Protozoa meliputi daerah lembab
hingga berair. Di derah kering atau dalam kondisi kekurangan air Protozoa akan
membentuk kista yang sangat tebal untuk melindungi dirinya.
Pada pengamatan
mikroskopis kami menggunakan beberapa jenis air yaitu air sungai, air selokan,
air sumur dan air pdam. Pada hasil pengamatan secara mikroskopis dengan
perbesaran 40x dari air sungai kami menemukan protozoa yang berjenis Amoeba dan
protista mirip tumbuhan atau alga yang berwarna hijau. Ciri dari Amoeba adalah
bentuknya tidak tetap dan selalu berubah-ubah. Struktur tubuh sel Amoeba
terdiri dari membran sel, kaki semu (pseudopodia), sitoplasma, 26 vakuola
makanan, vakuola kontraktil dan inti sel yang terlihat jelas. Vakuola
kontraktil selain berfungsi sebagai osmoregulator tetapi berfungsi sebagai alat
ekskresi. Inti dalam sel Amoeba merupakan bagian terpenting karena mengatur
kegiatan kerja sel dan reproduksi (Djuhanda, 1980, h. 12).
Alga atau ganggangsebagian besar
ganggang hidup di dalam perairan, baik di air tawar maupun air laut. Cara hidup
ganggang bermacam-macam seperti hidup bebas dan melayang dipermukaan air,
melekat pada substrat, hidup di dalam tubuh hewan air, hidup menempel di
tumbuhan air. Ganggang memiliki peran sebagai produsen di perairan. Hal ini
disebabkan karena ganggang memiliki pigmen klorofil a, b, c dan d sehingga
dapat melakukan fotosintesis.
Pada hasil
pengamatan mikroskopis dari air selokan dengan perbesaran 40x kami menemukan
protozoa berjenis paramecium yang termasuk kelas ciliata dan protista mirip
tumbuhan atau alga yang berwarna hijau. Ciliata atau Ciliophora adalah protozoa
yang bergerak dengan menggunakan silia (rambut getar). Ciliata memiliki bentuk tubuh
yang tetap Gambar 2.5 Struktur tubuh Euglena (sumber: http://artikelsiana.com)
diakses tanggal 10 Mei 2016 28 karena memiliki pelikel. Pelikel merupakan
selaput protein atau glikoprotein yang keras untuk menyokong membran sel. Alga
atau ganggangsebagian besar
ganggang hidup di dalam perairan, baik di air tawar maupun air laut.Ganggang
memiliki peran sebagai produsen di perairan. Hal ini disebabkan karena ganggang
memiliki pigmen klorofil a, b, c dan d sehingga dapat melakukan fotosintesis
Pada hasil pengamatan
mikroskopis dari air sumurdengan perbesaran 10X kami menemukan protozoa
berjenis amoeba. Amoeba adalah genus yang dimiliki protozoa yang merupakan
eukariota uniseluler (organisme dengan organel sel membran-terikat). Ciri dari Amoeba adalah bentuknya tidak
tetap dan selalu berubah-ubah
Pada hasil
pengamatan mikroskopis dari air pdam dengan perbesaran 10X ditemukan protozoa
rotifera dan dengan perbesaran 40X terdapat cryptosporidium. Rotifera adalah hewan multiseluler
dengan rongga tubuh yang sebagian dilapisi olehmesoderm. Organisme ini memiliki
spesialisasi sistem organ dan saluran pencernaanlengkap yang meliputi mulut dan
anus. Cryptosporidium adalah protozoa yang
dapat menyebabkan penyakit saluran pencernaan dan usus dengan diare pada
manusia. Biasanya berbentuk bulat, berdiameter 4 - 6 um mengandung 4
sporozit yang tidak terlalu terlihat,refraktil, terdiri 1-8 granula yang
menonjol dan dilapisi dua dinding tebal
BAB
V
KESIMPULAN
Pada
pembuatan preparat
jamur setelah proses
inkubasi,biakan jamur yang tumbuh dua yaitu Rhizopus sp. berwarna abu-abu dan
Aspergillus niger berwarna hitam, namun pada biakan jamur Penicillum sp. tidak
tumbuh dikarenakan mungkin biakan jamur yang digunakan telah rusak sehingga
tidak dapat tumbuh.
Berdasarkan hasil pengamatan mikroskopik pada jamur dengan perbesaran
40X pada Rhizopus sp menghasilkan koloni berwarna abu abu pada media sda yang
terdiri dari spora,sporangium,sporangiofor,hifa/stolon,danrhizoid. Dan pada Saccharomyces cerevisiae berbentuk oval dan terdapat
adanya budding.
Sedangkan pada Aspergillus
niger menghasilkan koloni berwarna hitam pada media SDA dan terdiri dari konidia,
phialid,vesikula,sporangiofor dan septa. Namun pada
Penicillium
sp kami tidak melakukan pengamatan dikarenakan media kami tidak tumbuh.
Sedangkan pengamatan Mikroskopik
Pada Air dengan
perbesaran 40x dari air sungai ditemukan protozoa berjenis Amoeba dan protista mirip tumbuhan atau
alga yang berwarna hijau. Dari air selokan, perbesaran 40x ditemukan protozoa
berjenis paramecium yang termasuk kelas ciliata dan protista mirip tumbuhan
atau alga yang berwarna hijau. Dari air sumur dengan
perbesaran 10X ditemukan protozoa berjenis amoeba. Sedangkan pada air pdam perbesaran 10X ditemukan protozoa rotifera dan
dengan perbesaran 40X terdapat cryptosporidium
EVALUASI
1. Apa perbedaan metode difusi sumuran dan
difusi paper disk yang anda kerjakan tersebut ?
Ø
Metode difusi sumuran dilakukan dengan membuat sumuran dengan diameter
tertentu pada media agar yang telah ditanami mikroba uji. Sedangkan pada metode
difusi paperdisk dilakukan dengan cara kertas disk yang mengandung senyawa anntimikroba
diletakkan diatas permukaan media agaryang telah ditanam ole mikroba uji.
2. Mengapa pada preparasi mikroba uji diperlukan
larutan standar ?
Ø
Untuk menggantikan perhitungan bakteri satu per satu dan untuk
memperkirakan kepadatan sel yang akan digunakan pada prosedur pengujian
antimikroba
3. Bagaimana cara pembuatan larutan standar mac
farland ?
Ø
Dibuat larutan 1.1755% (b/v) Barium Klorida
Ø
buat larutan 1% (b/v) Asam sulfat
Ø
Campurkan kedua larutan berdasarkan rasio tersebut, dengan [pemberian
H2SO4 terlebih dahulu
Ø
Tutup tabung dengan rapat dan simpann pada suhu ruang ditempat gelap.
4. Apa fungsi dari konntrol kontaminasi media,
kontrol pertumbuhhan mikroba uji dan kontrol negatif/pelarut ?
Ø
Kontrol kontaminasi media : untuk mengetahui bahwa media terbebas dari
faktor kontaminasi bakteri dari luar.
Ø
Kontrol pertumbuhan mikroba uji : untuk membuktikan bahwa bakteri uji
dapat tetap hidup.
Ø
Kontrol negatif/pelarut : untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh pelarut
terhadap pertumbuhan bakteri sehingga dapat doketahui bahwa yang mempunyai
aktivitas antibakteri adalah zat uji bukan pelarut.
5. Mungkinkah digunakan pelarut senyawa uji yang
memiliki potensi antimikroba ? jelaskan !
Ø
Digunakannya pelarut senyawa uji potensi mikroba untuk mengetahui
bagaimana cara menanngani penyakit yang ditimbulkan oleh mikroba maka
dilakukanlah uji aktivitas mikroba dengan mengukur efek senyawa tersebut pada
pertumbuhan suatu mikroba.
DAFTAR PUSTAKA
Ø Hidayatullah
T. 2018. Identifikasi Jamur Rhizopus sp dan Aspergillus pada roti bakar sebelum
dan sesudah dibakar yang dijual dialun-alun jombang. Jombang
Ø Septriani
E. 2009. Isolasi dan Identifikasi Saccharomyces cerevisiae yang diperoleh dari
PG-PS Malukismo Yogyakarta Yang Digunakan Dalam Proses Fermentasi Alkohol.
Yogyakarta
Ø Astuti
N. W., dkk. 2015. Identifikasi Isolat Aspergillus sp. KRM 43 dari Madura dan
Produksi Enzim Protease Dengan Variasi PH dan Waktu Inkubasi. Diponegoro
Ø Syarifullah
A. 2014. Pengaruh Penyimpanan Pakan Udang Komersial dengan Penambahan Volume
Air Berbeda Terhadap Pertumbuhan Jamur Kandungan Protein Kasar. Sidoarjo
Ø Novianti A., dkk. Pengamatan Morfologi Kapang Dan Khamir
Dengan Pewarnaan Lcb (Lactophenol Cotton Blue) Dan Lugol. (diakses tanggal 26
Oktober 2019. https:
//www.Academia.Edu/ 29367698/ Pengamatan
Morfologi Kapang Dan Khamir Dengan Pewarnaan Lcb (Lactophenol Cotton Blue) Dan
Lugol)
Ø Ikhsani
I., dkk. 2015. Laporan Praktimum Mikrobiologi Dasar Acara Morfologi
Jamur.Yogyakarta
Ø Aziz
R. 2015. Makalah Planktologi Rotifera dan Protozoa. Jatinangor (diakses di
academia.edu)
Ø Anonim.
2011. Cryptosporidium sp. (diakses tanggal 27 oktober 2019. http://analiskesehatan-indonesia.blogspot.com/2011/04/cryptosporidium-sp.html)
Ø Astuti
D S. 2017. Inventarisasi Protozoa di Objek Wisata Umbul Cokro Tulung Klaten.
Surakarta. ISSN : 2527-533X
Ø Ibeng P. 2019. Pengertian Protozoa, Jenis, Ciri,
Klasifikasi & Reproduksi
(https://pendidikan.co.id/pengertian-protozoa-jenis-ciri-klasifikasi-reproduksi/).
Diakses pada 26 Oktober 2019
Ø Pelezar.
M. J., R. D. Reid & E. C. S. Chan, 1977, Microbiology, Ed ke-4 McGraw-hilll
Book
Company. Inc., New York, vii + 952 hlm.
Ø Volk.
W. A, M. F. Wheeler, 1993, Mikrobiologi, Ed ke-5, terjemahan dari Microbiology,
oleh markham, penerbit Erlangga, jakarta : xii + 396 hlm.













